Connect with us

PONOROGO

Hujan Deras Akibatkan Tebing Longsor di Ponorogo

Published

on

Sejumlah orang kerja bakti membersihkan tanah longsor di Desa Tumpuk, Kecamatan Sawoo, Ponorogo, Jawa Timur Senin 8 Januari 2018.

Jatimraya.co, Ponorogo – Hujan deras disertai angin kencang mengakibatkan tebing longsor menimbun sebagian rumah milik Sayudi, warga Dusun Plongko, Desa Jurug, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Selasa (10/4) malam.

Kasubbag Humas Polres Ponorogo AKP Sudarmanto di Ponorogo, Rabu (11/4/2018), mengatakan bencana alam tersebut terjadi Selasa (10/4/2018) sekitar pukul 21.00 WIB.

“Hujan deras terjadi di Desa Jurug dan sekitarnya mengakibatkan tanah tebing di belakang rumah Pak Sayudi setinggi serkitar tujuh meter dan lebar 10 meter longsor menimpa dinding dapur,” kata dia, seperti dikutip Indonesiaraya.co.id.

Setelah kejadian tersebut, lanjut Sudarmanto, korban melapor kepada perangkat desa dan diteruskan kepada Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Desa Jurug dan Siaga Polsek Sooko pada Rabu (11/4/2018) atau keesokan harinya.

“Pak Sayudi melaporkan ke perangka desa dan baru dilaporkan ke Siaga Polsek Sooko, Rabu (11/4/2018),” ujar dia.

Ia menjelaskan aparat bersama masyarakat setempat kerja bakti mengatasi bencana tanah longsor tersebut.

“Dalam bencana tebing longsor tersebut tak sampai ada koban jiwa. sedangkan kerugian materi diperkirakan Rp7 juta,” katanya. (lou/rik)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PONOROGO

Jelang Grebeg Sura Hunian Penginapan di Ponorogo Penuh

Published

on

Kegiatan Grebeg Sura itu sendiri sudah menjadi agenda rutin tahunan yang digelar setiap 1 Muharram.

Jatimraya.com, Ponorogo – Menjelang Grebeg Suro yang rutin digelar setiap Tahun Baru Islam 1 Muharram 1440 Hijriah, hunian hotel atau tempat menginap di wilayah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, penuh, karena wisatawan banyak berdatangan.

“Ini momen yang luar biasa karena 1 Sura kali ini bertepatan dengan peringatan Hari Jadi ke-522 Kabupaten Ponorogo,” kata Wakil Bupati Ponorogo Soedjarno, Minggu (9/9/2018), kepada wartawan usai membuka kegiatan Parade Budaya di depan Pendopo Kabupaten Ponorogo.

Parade Budaya itu sendiri merupakan bagian dari serangkaian acara untuk memperingati Hari Jadi ke-522 Kabupaten Ponorogo yang jatuh pada 11 Agustus.

BACA JUGA : Begini Cara Ponorogo Sambut 1 Muharram

“Ada 33 kegiatan budaya yang kami gelar selama sebulan penuh sejak 11 Agustus lalu untuk meramaikan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo tahun ini,” ujarnya.

Serangkaian acara Hari Jadi ke-522 Ponorogo itu, lanjut dia, puncaknya jatuh pada hari ini, besok dan lusa, yang bertepatan dengan kegiatan Grebeg Sura, yang rutin digelar setiap 1 Muharram.

“Kegiatan Grebeg Sura itu sendiri sudah menjadi agenda rutin tahunan yang digelar setiap 1 Muharram, yang sebenarnya di luar agenda dari rangkaian peringatan Hari Jadi Ponorogo,” katanya, menjelaskan.

Tahun ini, Soedjarno menandaskan, kebetulan momen Grebeg Sura jatuh bersamaan dengan rangkaian kegiatan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

“Karena Hari Jadi Kabupaten Ponorogo menggunakan tanggalan masehi, sedangkan Grebeg Suro menggunakan tanggalan hijriah, sehingga momen yang bersamaan seperti ini kira-kira terjadi setiap empat atau lima tahun sekali,” ucapnya.

Momen yang bersamaan tersebut, lanjut dia, terbilang sukses mendatangkan banyak wisatawan ke Ponorogo.

“Laporan yang saya terima, terhitung sejak kemarin, 8 September 2018, hunian di Ponorogo sudah penuh. Jadi banyak wisatawan yang terpaksa harus menginap di hotel-hotel yang berada di luar wilayah Kabupaten Ponorogo,” katanya.

Soedjarwo memprediksi jumlah wisatawan yang datang mencapai 10 ribu orang lebih untuk menyaksikan acara puncak Peringatan Hari Jadi ke-522 Kabupaten Ponorogo yang berlangsung mulai hari ini, besok dan lusa.

Para wisatawan itu juga dipastikan berdatangan ke Ponorogo untuk menyaksikan kegiatan Grebeg Sura yang akan berlangsung di Telaga Ngebel, pada 1 Muharram atau hari Selasa, 11 September 2018. (sas)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

PONOROGO

Begini Cara Ponorogo Sambut 1 Muharram

Published

on

Bedol Pusaka ini sudah menjadi tradisi yang digelar setiap `suroan` atau peringatan tahun baru Islam, 1 Muharram.

Jatimraya.com, Ponorogo – Pemerintah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, menggelar tradisi Bedol Pusaka dari Pringgitan atau Rumah Dinas Bupati di lingkungan Alun-alun kabuplima kilometer.

“Bedol Pusaka ini sudah menjadi tradisi yang digelar setiap `suroan` atau peringatan tahun baru Islam, 1 Muharram,” ujar Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni kepada wartawan usai memimpin prosesi Bedol Pusaka, yang berlangsung hingga Senin (10/9/2018) dini hari.

Dia menjelaskan terdapat tiga benda pusaka yang diyakini telah ratusan tahun tersimpan di Pringgitan yang saat ini ditempatinya sejak terpilih menjabat Bupati Ponorogo di tahun 2016.

Masing-masing adalah pusaka payung “songsong tunggul nogo”, tombak “tunggul wulung” dan tambang atau sabuk “cinde puspito”.

Konon ketiga pusaka tersebut dipergunakan oleh pendahulunya untuk mempertahankan wilayah Ponorogo dari serangan penjajah.

Tiga pusaka ini dibedol ke Pasar Pon, yang dikenal sebagai kawasan kota lama Ponorogo. “Menurut sejarahnya, pemerintahan Ponorogo sebelum dipindahkan ke Pringgitaan yang sekarang saya tempati ini, dulu berpusat di Pasar Pon,” katanya.

Ipong merujuk pada catatan sejarah yang menyebut Ibu Kota Kabupaten Ponorogo di tahun 1496 berpusat di Pasar Pon, sebelum kemudian dipindahkan ke Pringgitan di tahun 1738.

“Jejak keratonnya sekarang memang sudah tidak terlihat lagi di Pasar Pon. Tapi ada artefak bangunan masjid tua dan sebuah makam, yang menguatkan bahwa Pasar Pon adalah kota lama yang dulu pernah menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Ponorogo,” ujarnya.

Ipong menandaskan tradisi Bedol Pusaka ini hanyalah simbolis yang setiap tahun digelar sebagai salah satu kegiatan untuk memeriahkan peringatan tahun baru Islam, 1 Muharram.

“Ya, untuk napak tilas yang menggambarkan sejarah perjalanan Kabupaten Ponorogo. Maka Bedol Pusaka digelar dengan arak-arakan atau kirab dengan rute dari Pringgitan ke Pasar Pon pada malam higga dini hari ini. Lalu pada siang harinya nanti dikirab lagi untuk dikembalikan ke Pringgitan,” katanya.

Ipong menyebut tradisi bedol pusaka setidaknya mampu menarik perhatian ratusan ribu masyarakat setempat maupun wisatawan yang memadati rute kirab dari Pringgitan menuju Pasar Pon.

“Puncaknya tepat pada 1 Muharram nanti, yaitu hari Selasa, 11 September 2018, akan digelar tradisi Grebeg Sura di Telaga Ngebel, yang biasanya juga disaksikan oleh banyak wisatawan,” ucapnya. (sas)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

PONOROGO

Petugas Gabungan Padamkan Kebakaran Hutan di Ponogoro

Published

on

Petugas Gabungan Padamkan Kebakaran Hutan di Ponogoro.

Jatimraya.com, Ponorogo – Petugas gabungan dari personel TNI dan petugas Perhutani bersama warga memadamkan kebakaran hutan milik Perum Perhutani di Desa Krebet, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Selasa malam.

Pejabat Penerangan Kodim Ponorogo, Serka Didik Kurniawan di Ponorogo, Selasa (19/6/2018), menuturkan kebakaran hutan terjadi di kawasan Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Krebet, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Ponorogo Barat.

“Hutan yang terbakar seluas dua hektare di wilayah Perhutani BKPH Ponorogo Barat, khususnya RPH Krebet di petak 30-B RPH Krebet,” kata Didik.

Masyarakat yang mengetahui kebakaran tersebut, kata dia, bersama anggota TNI yang bertugas sebagai Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan petugas Perhutani segera menuju ke lokasi kebakaran untuk melakukan pemadaman.

“Babinsa Sertu Juwono Babinsa Koramil Jambon bersama dua orang anggota dan dua orang petugas Perhutani serta sekitar 15 warga masyarakat melakukan pemadaman di lokasi kebakaran hutan,” ujarnya.

Menurut Didik, pemadaman api dilakukan dengan cara melokalisir api agar tidak menjalar ke tempat lain.

“Petugas dan masyarakat melokalisir api dengan cara membersihkan semak belukar guna menghentikan api yang membakar semak belukar,” ucapnya.

Kebakaran hutan yang belum diketahui penyebabnya tersebut berhasil dipadamkan pada sekitar pukul 21.00 WIB. (uis)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Advertisement

Trending