Connect with us

SAMPANG

Dampak Gempa Situbondo Dirasakan Warga Sampang

Published

on

Gempa bumi di Situbondo.

Jatimraya.com, Sampang – Gempa bumi di Situbondo, Jawa Timur, pada Kamis (11/10) pagi, juga dirasakan warga Sampang di Pulau Madura, bahkan seorang warga luka-luka akibat tertimpa bangunan roboh.

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Sampang Anang Djoenaidi di Sampang, Kamis malam, warga yang mengalami luka-luka karena tertimpa reruntuhan bangunan roboh saat gempa itu terjadi bernama Aisyah (10).

“Dia mengalami luka sobek di bagian kaki kanan setelah tembok rumahnya ambruk, dan saat ini korban sedang menjalani perawatan medis,” katanya.

Korban yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu menjadi korban reruntuhan bangunan rumahnya, karena saat gempa sedang tertidur pulas dan tidak keluar rumah.

“Rumahnya ambruk dan mengenai si korban itu,” kata Anang, menjelaskan.

Kepala BPBD menjelaskan, kondisi rumah korban memang rapuh, sehingga saat terkena goncangan sedikit saja, langsung roboh.

“Tim BPBD Pemkab Sampang tadi telah ke sana dan melibat secara langsung kondisi rumah dan korban reruntuhan bangunan tersebut,” katanya.

Menurutnya, dalam peristiwa itu memang hanya Aisyah mengalami luka, sedangkan anggota keluarga lainnya selamat.

Gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 6,4 mengguncang wilayah Jawa Timur dan Bali pada Kamis (11/10) pukul 01.57 WIB.

BMKG melaporkan episenter gempa bumi terletak pada koordinat 7,47 kintang selatan dan 114,43 bujur timur, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 55 kilometer arah timur laut Kota Situbondo, Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur pada kedalaman 12 km.

Dilsporksn, sebanyak tiga orang meninggal dunia dan 24 orang mengalami luka-luka. Dari jumlah tersebut 16 di antaranya tengah dirawat di Puskesmas Kecamatan Gayam.

Gempa juga menyebabkan kerusakan rumah warga yakni 210 rumah di Kecamatan Gayam 31 rumah rusak ada di Kecamatan Nonggunong, termasuk satu rumah di Kabupaten Sampang, Madura. (abd)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

SAMPANG

Potongan Tubuh Dievakuasi di Perairan Sampang

Published

on

Petugas mengevakuasi potongan tubuh yang ditemukan nelayan di perairan laut Dusun Sumber Otok, Desa Taddan, Sampang, Jawa Timur.

Jatimraya.com, Sampang – Petugas mengevakuasi potongan tubuh yang ditemukan nelayan di perairan laut Dusun Sumber Otok, Desa Taddan, Sampang, Jawa Timur, Selasa (13/11) malam, ke Rumah Sakit dr. Mohammad Zain Sampang.

“Potongan tubuh mayat yang ditemukan tadi malam (13/11) itu, ditemukan oleh nelayan setempat dan langsung dilaporkan ke petugas,” ujar Kasi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang Moh Imam melalui telepon di Sampang, Rabu pagi.

Berdasarkan dugaan, mayat dengan kondisi tubuh yang sudah tidak utuh tersebut sudah lama berada di tengah laut.

Ia menjelaskan saat ditemukan, hanya potongan badan bagian bawah, sedangkan bagian atas sudah hilang, bahkan, terdapat tulang kaki panjang bagian kanan.

“Evakuasi kami lakukan tadi malam (13/11) dan saat ini kami masih berkoordinasi dengan BPBD Pemprov Jawa Timur melaporkan tentang temuan mayat ini,” kata Imam.

Ia menuturkan pertama kali mayat dengan kondisi tubuh tidak utuh tersebut ditemukan seorang nelayan sekitar di dasar laut di pesisir Pantai Taddan, Sampang, sekitar pukul 07.00 WIB.

Laporan baru disampaikan nelayan kepada aparat desa setempat pada sore hari, setelah nelayan pulang dari melaut.

“Aparat desa langsung melaporkan dan kami juga langsung bergerak menuju lokasi penemuan potongan tubuh mayat sebagaimana dilaporkan warga,” ujar dia.

Pada sekitar pukul 18.30 WIB, potongan tubuh tersebut ditemukan, namun posisinya bergeser sekitar 30 meter dari titik penemuan awal.

Ia mengatakan petugas juga menemukan pakaian berupa celana training berwarna hijau dan kolor hitam.

Menurut dokter UGD RSUD dr. Mohammad Zain, dr Cristin Desi, berdasarkan hasil autopsi, mayat tersebut berjenis kelamin perempuan.

“Ini berdasarkan hasil pengukuran tulang kaki kanan mayat yang telah kami lakukan tadi malam (13/11),” katanya.

Berdasarkan catatan Antara, penemuan mayat sebagaimana terjadi di Pantai Taddan, Kecamatan Camplong, Sampang itu, bukan yang pertama kali terjadi.

Pada Mei 2018, warga Dusun Taposan, Desa Planggaran Barat, Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang, juga digegerkan dengan penemuan mayat pemuda dengan kondisi luka di leher dan bagian perut.

Pada Juni 2018, seorang perempuan paruh baya ditemukan tak bernyawa di dekat jembatan Dusun Lebak, Desa Sokobanah Daja, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang.

Pada Oktober 2018, mayat korban kapal tenggelam asal Probolinggo, Jawa Timur juga ditemukan di sekitar peraitan Pantai Camplong, Sampang. (abd)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

SAMPANG

Panwaslu Sampang Bantah Tudingan Pendukung Cabup/Cawabup Mantap

Published

on

Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Sampang, Hermanto Subaidi-Suparto.

Jatimraya.com, Sampang – Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Sampang, Jawa Timur membantah tudingan pendukungan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Sampang Hermanto Subaidi-Suparto (Mantap) yang menyebutkan panitia pengawas pemilu itu, berpihak pada calon tertentu dengan mengabaikan penyimpangan pada proses pilkada.

“Tidak benar kami berpihak pada salah satu pasangan calon. Panitia harus netral dan harus mengayomi semua kelompok kepentingan,” ujar Komisioner Panwaslu Sampang Divisi SDM dan Organisasi, Insiyatun.

Dalam keterangan persnya kepada media di Sampang, Senin (9/7/2018) malam, komisioner yang juga bicara Panwaslu Sampang itu menjelaskan, pihaknya tidak memberikan keputusan baru untuk penanganan pelanggaran sesuai permohonan tim pendukung pasangan calon nomor urut 2, Hermanto Subaidi-Suparto (Mantap).

“Karena status penanganan pelanggaran sudah kami sampaikan kepada pihak pelapor, tembusan kepada Bakesbangpol, KPU Sampang, dan Bawaslu Provinsi Jawa Timur,” kata Insiyatun.

Ia menjelaskan, bahwa kasus dugaan pelanggaran pilkada yang disampaikan tim “Mantap” tidak cukup bukti.

Selain itu, Panwaslu juga telah melakukan pemeriksaan kepada para pihak yang diduga terlibat, namun waktu penyelidikan terbatas.

“Dari kami sudah selesai batas waktu yang ditetapkan dalam melakukan penyelidikan, yakni lima,” ucap Insiyatun.

Menurut dia, dalam menjalankan tugas-tugas pengawasan, pihaknya berpedoman pada Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Perbawaslu) Nomor 14 Tahun 2017.

“Dan mengacu kepada ketentuan itu, kami akhirnya membuat keputusan bahwa kasus dugaan penyimpangan dalam proses pilkada yang disampaikan tim ‘Mantap’ kepada kami, tidak dapat ditindak lanjuti, disamping memang tidak memenuhi unsur alat bukti,” katanya, menjelaskan.

Pernyataan komisioner Panwaslu Sampang, Madura, Jawa Timur Insiyatun ini disampaikan menanggapi tudingan pendukung pasangan Cabup/Cawabup “Mantap” saat berunjuk rasa ke Panwaslu Sampang, Senin (9/7) sore.

Kala itu, ratusan tim pendukung “Mantap” berunjuk rasa di kantor Panwaslu Sampang hingga terjadi kericuhan.

Mereka mengaku kecewa karena laporan dugaan kecurangan saat pelaksanaan Pilkada Sampang yang berlangsung pada 27 Juni 2018 ditolak Panwaslu dengan alasan tidak cukup alat bukti.

Massa pengunjuk rasa yang berjumlah ribuan orang ini juga menuding, Panwaslu Sampang terkesan memihak pada salah satu pasangan calon bupati dan wakil bupati tertentu.

Saat berunjuk rasa massa pendukung cabup/cawabup “Mantap” ini juga meminta agar Bawaslu Jatim mengambil alih kasus pelanggaran pilkada di Sampang dan memecat semua komisioner Panwaslu Sampang karena dinilai tidak netral dan berpihak pada pasangan tertentu.

Pada Pilkada ini diikuti oleh tiga pasangan calon itu, pasangan dengan nomor urut 1, yakni Slamet Junadi-Abdullah Hidayat (Jihad), diketahui berhasil meraih dukungan 257.121 suara atau 38,04 persen. Nomor urut 2, Hermanto Subaidi-Suparto (Mantap) meraih dukungan 252.676 suara atau 37,38 persen.

Kemudian, nomor urut 3, yakni Hisan-Abdullah Mansyur (Hisbullah) meraih dukungan 166.059 suara atau 24,57 persen.

Pilkada di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur digelar di 1.450 tempat pemungutan suara (TPS) yang tersebar di 180 desa dan 6 kelurahan yang tersebar di 14 kecamatan Kabupaten Sampang.

Pesta demokrasi lima tahunan guna memilih calon pemimpin itu diikuti tiga pasangan, yakni H. Hisan/K.H. Abdullah Mansyur (Hisbullah) didukung Partai Demokrat dan PAN.

Selanjutnya, pasangan H. Slamet Junaidi/H. Abdullah Hidayat (Jihad) didukung Partai NasDem, PKS, PDIP, dan PPP; pasangan Hermanto Subaidi/Suparto didukung Partai Gerindra, dan PKB .

Sementara itu, daftar pemilih tetap (DPT) di Kabupaten Sampang, Madura untuk pilkada setempat sebanyak 803.499 orang yang terdiri atas 397.031 laki-laki dan 406.468 perempuan.

Hasil rekapitulasi KPU Kabupaten Sampang menyebutkan pasangan Slamet Junaidi/Abdullah Hidayat (Jihad) unggul dengan meraih 257.121 suara, Hermanto Subaidi/Suparto (Mantap) memperoleh dukungan 252.676 suara, dan Hisan/Abdullah Mansyur (Hisbullah) meraih dukungan 166.059 suara.

Dari tiga saksi peserta pilkada setempat, hanya saksi dari pasangan “Mantap” yang menolak menandatangani hasil rekapitulasi perolehan suara, sedangkan saksi “Hisbullah” dan “Jihad” menandatanganinya.

Selain berunjuk rasa ke Kantor Panwas Kabupaten Sampang, massa pendukung pasangan “Mantap” ini berencana berunjuk rasa ke Kantor KPU Kabupaten Sampang. (abd)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

SAMPANG

Aktivis Dorong Pemkab Membuat Aturan P2TP2A

Published

on

Aktivis Dorong Pemkab Membuat Aturan P2TP2A.

Jatimraya.com, Sampang – Aktivis Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) di Kabupaten Sampang, Jawa Timur mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat agar membuat aturan tentang Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) guna mengatasi persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kaum perempuan dan anak-anak.

“Ini penting, mengingat di Kabupaten Sampang ini termasuk kabupaten dengan tingkat kejadian kekerasan pada anak dan perempuan tinggi,” ujar aktivis perempuan dari pegiat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Jaka Jatim Siti Farida di Sampang, Kamis (7/6/2018).

Farida menjelaskan, kasus tindak pidana kriminal yang menimpa kaum perempuan dan anak dibawah umur yang sering terjadi di Kabupaten Sampang adalah pemerkosaan dan pelecehan seksual.

Kasus kekerasan pada anak yang dilakukan oleh orang tua juga sering terjadi, baik di ranah keluarga, ranah publik ataupun di lingkungan sekolah.

“Jika ada aturan khusus yang dibuat oleh daerah, baik berupa Peraturan Bupati (Perbup) ataupun Perda, saya yakin persoalan-persoalan tersebut bisa ditangani dengan baik, terutama mengenai antisipasinya,” ujarnya, menjelaskan.

Ia menilai, selama ini, yang sering terjadi terkait kasus penanganan kaum perempuan dan anak adalah saling lempar tanggung jawab antara satu institusi dengan institusi lainnya.

“Jika ada aturannya, apalagi diperjelas mengenai sistem penanganan, serta institusi mana yang harus bertanggung jawab melakukan pendampingan bagi kaum perempuan dan anak-anak yang menjadi korban kekerasan, saya kira akan lebih baik,” ujarnya, menjelaskan.

Sementara itu, laporan kejadian dan penanganan kasus kekerasan perempuan dan anak di Mapolres Sampang menyebutkan, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir tercatat, kasus kekerasan perempuan dan anak di Kabupaten Sampang pada 2016 sebanyak 57 kasus. Terdiri, 23 kasus penganiayaan, sembilan kasus pemerkosaan, dan tujuh kasus narkoba yang melibatkan anak.

Kemudian, tahun 2017 terdapat 40 kasus, dan tahun 2018 hingga April 2018, tercatat jumlah kasus kekerasan pada perempuan dan anak sebanyak 12 kasus.

Pejabat (Pj) Bupati Sampang Jonathan Judianto mengaku berterima kasih dan mengapresiasi masukan dari pegiat LSM di Sampang itu.

Ia mengaku, pemkab akan mempertimbangkan masukan baik itu, agar tata kerja penanganan kasus itu kedepan bisa lebih optimal.

“Terima kasih sudah memikirkan persoalan penanganan kekerasan perempuan dan anak di Sampang, kita akan segera memikirkan itu dan ini tentunya sangat baik,” katanya, menjelaskan. (abd)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Advertisement

Trending