Connect with us

MALANG

IA-CEPA Tidak Berpengaruh Negatif bagi Peternak Sapi Kabupaten Malang

Published

on

IA-CEPA dinilai tidak akan memberikan dampak negatif terhadap para peternak sapi di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Jatimraya.com, Malang – Kesepakatan antara Indonesia dan Australia dalam Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (IA-CEPA) dinilai tidak akan memberikan dampak negatif terhadap para peternak sapi di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang Nurcahyo di Kabupaten Malang, Selasa (12/3/2019), mengatakan bahwa dengan pembebasan Bea Masuk (BM) nol persen terhadap impor sapi asal Australia tersebut tidak akan memberikan pengaruh sebab Jawa Timur tidak menerima daging impor.

“Kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak menerima impor dari luar. Jadi tetap akan menggunakan daging lokal, dan Kabupaten Malang tidak tersentuh daging impor,” kata Nurcahyo di Pringgitan Pendopo Agung Kabupaten Malang.

Pada 2010, Gubernur Jawa Timur menerbitkan Surat Edaran Nomor 524/8838/023/2010 tertanggal 30 Juni 2010, Tentang Larangan Pemasukan dan Peredaran Sapi, Daging dan Jeroan Impor. Kebijakan tersebut merupakan upaya stabilisasi melonjaknya harga sapi dan daging di wilayah tersebut.

Indonesia dan Australia resmi menandatangani perjanjian kerja sama perdagangan yang tertuang dalam Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA), antara Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dengan Menteri Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi Australia, Simon Birmingham.

Kesepakatan tersebut dilandasi semangat saling menguntungkan antarkedua negara, bukan saja dalam jangka pendek, tapi juga jangka panjang. Perjanjian itu juga dilakukan untuk meningkatkan investasi dan perdagangan kedua negara.

Salah satu poin dalam perjanjian tersebut adalah pembebasan bea masuk untuk impor sapi dari Australia ke Indonesia. Sehingga dikhawatirkan, impor sapi ke Indonesia akan semakin banyak, dan mengancam keberadaan peternak di dalam negeri.

“Dengan impor daging tersebut, tidak berpengaruh, karena Kabupaten Malang itu swasembada. Kami butuh untuk distribusi luar daerah,” kata Nurcahyo.

Populasi sapi di Kabupaten Malang mencapai 243 ribu ekor sapi, dan tiap tahun ada kurang lebih 60-70 ribu sapi yang baru lahir, dengan total nilai mencapai Rp639 miliar sehingga Kabupaten Malang menyatakan diri swasembada akan kebutuhan daging sapi.

Untuk Kabupaten Malang, produksi daging sapi per tahun diperkirakan mencapai 41 ribu ton, dengan konsumsi hanya sebesar 25 persen dari total produksi yang ada. Sementara sisanya dipasok untuk kebutuhan di berbagai wilayah Jawa Timur, termasuk Kalimantan dan Sulawesi. (vic)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MALANG

Pemkab Malang Targetkan Kunjungan 10 Juta Wisatawan pada 2020

Published

on

Wakil Bupati Malang, Sanusi.

Jatimraya.com, Malang – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang menargetkan 10 juta jiwa kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik ke wilayah itu pada tahun 2020.

“Untuk tahun ini kami memasang target kunjungan wisatawan sekitar 7,6 juta jiwa dan tahun depan dengan berbagai upaya bisa mendulang wisatawan 10 juta jiwa, baik wisatawan domestik maupun mancanegara,” kata Wakil Bupati Malang Sanusi di Malang, Rabu (24/4/2019).

Target yang dicanangkan tahun ini mengacu pada capaian kunjungan wisatawan di tahun 2018. Pada tahun 2018, kunjungan wisatawan yang mampu mencapai 7 juta jiwa, meski ada sejumlah kendala, terutama cuaca. Faktor cuaca ekstrim berdampak signifikan terhadap kunjungan pada bulan Desember yang menurun drastis.

Destinasi wisata pantai di kawasan Malang selatan yang sangat bergantung pada cuaca tersebut bisa ditutup dengan naiknya kunjungan wisata ke berbagai kawasan, khususnya destinasi wisata desa yang terus menggeliat, baik secara kualitas maupun kuantitasnya.

“Melihat kondisi dan tren kunjungan wisatawan yang cukup bagus pada tahun lalu, tahun ini kami naikkan target kunjungannya, yakni 7,6 juta jiwa dan kami optimistis bisa terealisasi. Bahkan, untuk tahun 2020 kami targetkan 10 juta jiwa,” tutur Sanusi.

Target 10 juta wisatawan pada 2020 tersebut, lanjut Sanusi, bisa didongkrak dengan keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singosari yang saat ini sudah berjalan. Selain itu, juga sudah beroperasinya Badan Otorita Pariwisata (BOP) Bromo Tengger Semeru.

“Kami akan terus berupaya menguatkan destinasi-destinasi wisata yang sudah kami miliki, baik destinasi wisata alam seperti pantai, coban, dan gunung maupun destinasi wisata buatan seperti Wendit Water Park dan lainnya, termasuk wisata desa yang terus bermunculan, seperti Desa Pujon Kidul,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Malang Made Arya Wedanthara juga optimistis seluruh destinasi wisata yang ada di Kabupaten Malang bisa menarik kunjungan wisatawan sesuai target.

“Kami harus optimistis, sebab selain menjual wisata yang telah lama dikenal di dalam dan luar negeri seperti wilayah pantai, kami juga akan terus memasifkan promosi wisata yang belum begitu tereksplorasi dan terpublikasi secara luas,” ujarnya.

Potensi wisata di Kabupaten Malang cukup besar, khususnya destinasi wisata alam yang tidak kalah indahnya dengan yang telah ada. Branding destinasi wisata yang belum digali dan dikenal luas wisatawan inilah yang akan menjadi kiat Disparbud Kabupaten Malang dalam mencapai target kunjungan wisatawan.

“Kami tidak hanya mengandalkan destinasi wisata yang sudah terkenal, tapi juga memasifkan destinasi wisata lainnya yang punya potensi besar menjadi bagian dari tujuan utama wisatawan untuk datang ke Kabupaten Malang. Selain itu, juga memaksimalkan keberadaan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di desa,” katanya. (end)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

MALANG

Harga Bawang Merah dan Putih di Malang Naik Drastis

Published

on

Bawang merah dan bawang putih menjelang Ramadhan 2019 naik drastis, rata-rata mencapai Rp10 ribu-Rp20 ribu per kilogram.

Probiz.id, Malang – Harga bumbu-bumbuan di wilayah Malang raya, khususnya bawang merah dan bawang putih menjelang Ramadhan 2019 naik drastis, rata-rata mencapai Rp10 ribu-Rp20 ribu per kilogram.

Salah seorang pedagang pracangan di Pasar Dinoyo Kota Malang Jumain, Rabu (24/4/2019), mengemukakan kenaikan harga bawang merah dan bawang putih tersebut, sudah terjadi sejak dua pekan lalu.

“Kenaikan harga bumbu-bumbuan ini tidak hanya untuk bawang merah dan bawang putih, tetapi sejumlah komoditas lainnya juga mengalami kenaikan harga, seperti cabai merah dan tomat,” kata Jumain.

Harga bawang merah sebelum ada kenaikan, kata Jumain, sekitar Rp23 ribu-Rp25 ribu, sekarang mencapai Rp35ribu sampai Rp36 ribu per kilogram. Sedangkan bawang putih sebelumnya seharga Rp25 ribu-Rp26 ribu, sekarang seharga Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram.

Ia mengatakan meski harga bawang terus naik, kualitas komoditas tersebut cukup bagus. “Kualitas bawangnya juga bagus dan stoknya juga cukup banyak. Masyarakat tidak perlu khawatir akan kekurangan bawang, baik merah maupun putih meski saat ini sudah mendekati Ramadhan dan Lebaran 2019,” ucapnya.

Berbeda dengan bawang, lanjut Jumain, ketika harga cabai naik, kualitasnya cenderung menurun karena berbagai faktor, khususnya cuaca. Saat ini harga cabai merah besar mencapai Rp32 ribu-Rp35 ribu per kilogram yang sebelumnya hanya seharga Rp24 ribu per kilogram.

Sementara itu, harga bawang bombay juga mengalami kenaikan cukup signifikan, yakni dari Rp18 ribu menjadi Rp28 ribu per kilogram, cabai rawit masih stabil dengan harga Rp18 ribu per kilogram. “Meski ada kenaikan sejumlah komoditas bumbu-bumbuan, harganya masih relatif wajar,” tuturnya.

Salah seorang ibu rumah tangga, Iswatin mengatakan setiap menjelang Ramadhan harga kebutuhan pokok pasti naik drastis, bahkan kenaikan harga kebutuhan pangan tersebut berlangsung hingga Lebaran. “Nanti mau Natalan dan Tahun Baru naik lagi. Setiap tahun kondisinya seperti ini,” ucapnya.

Iswatin yang berdomisili di Lowokwaru itu mengaku kelimpungan ketika menjelang Ramadhan karena hampir semua harga kebutuhan pokok naik, bahkan jauh hari sebelum Ramadhan sudah naik duluan.

“Kami ibu rmah tangga dan masyarakat kecil ini berharap pemerintah bisa menyelesaikan persoalan harga ini. Masak setiap menjelang Ramadhan, Lebaran dan hari-hari besar lainnya, harga kebutuhan pokok pasti naik. Kasihan kami rakyat kecil ini selalu kelabakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Statistik Distribusi BPS Kota Malang, Dwi Handayani Prasetyowati mengatakan naiknya harga bahan pokok bisa memicu terjadinya inflasi. “Kalau harga kebutuhan pokok terus naik, kami akan meminta Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk menekan harga agar angka inflasi di Kota Malang tidak terlalu tinggi,” paparnya.

Pada Maret 2019, BPS mencatat inflasi di Jawa Timur mencapai 0,16 persen. Dari 38 kota dan kabupaten di Jatim, inflasi tertinggi terjadi di Kota Malang, yakni 0,36 persen. Komoditas yang berperan terhadap inflasi, di antaranya tarif angkutan udara, bawang putih dan bawang merah. (end)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

MALANG

Alih Fungsi Tinggi, Petani Malang Diminta Pertahankan Lahan Pertanian

Published

on

Jatimraya.com, Malang – Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Malang meminta warga setempat untuk tetap mempertahankan area sawah irigasi atau lahan produktif sebagai penopang ketahanan pangan di daerah itu.

“Saya berharap luas lahan persawahan tidak akan berkurang lagi, khususnya di Kecamatan Singosari. Dalam beberapa tahun terakhir ini banyak terjadi alih fungsi lahan persawahan seiring dengan proyek-proyek strategis nasional, seperti jalan tol Malang-Pandaan dan rencana pembangunan kawasan ekonomi khusus (KEK),” kata Kepala DKP Kabupaten Malang M Nasri Abd Wahid di Malang, Kamis (4/4/2019).

Dengan adanya proyek strategis nasional tersebut, Nasri berharap masyarakat petani mampu mempertahankan luas lahan produktif (sawah irigasi) tersebut, sebab, wilayah Singosari memiliki tanah yang subur dan ditunjang para petani andal, terutama pertanian padi.

Apalagi, lanjutnya, selama ini Kecamatan Singosari sebagai salah satu sentra pertanian padi, bahkan menjadi penopang ketahanan pangan dan penyumbang surplus beras di Kabupaten Malang yang mencapai 75 ribu sampai 80 ribu ton per tahun.

Oleh karena itu, pihaknya tergantung pada pemilik lahan sawah produktif tersebut, sebab berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 7 Tahun 2012 tentang pedoman teknis, kriteria dan persyaratan kawasan, lahan dan lahan cadangan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B), disebutkan rencana penetapan LP2B harus berdasarkan kesediaan petani pemilik lahan.

Artinya, lanjutnya, bila petani tidak menyetujui lahan sawah miliknya menjadi bagian LP2B, pemerintah tidak bisa memaksa mereka. “Oleh karena itu, kami berharap banyak kepada petani pemilik lahan, baik di Singosari maupun wilayah lainnya agar tetap mempertahankan lahan sawahnya,” ucap Nasri.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Budiar Anwar mengatakan salah satu pertimbangan alih fungsi lahan adalah dari profit yang dihasilkan. Namun, sebelum lahan tersebut dialihfungsikan, terlebih dulu harus disiapkan lahan penggantinya.

“Yang pasti kami tidak akan merekomendasikan jika ada lahan produktif dialihfungsikan untuk kepentingan lain. Tapi, jika itu memang harus dilakukan, yang pertama harus disiapkan adalah lahan penggantinya dulu,” katanya.

Pemkab Malang sudah memastikan akan tetap menjaga lahan pertanian irigasi teknis dan tidak akan memberikan izin pengeringan lahan sawah untuk perumahan atau kepentingan lain di luar pertanian (sawah) padi. Pengembang dipersilakan mencari lahan bukan sawah.

Sektor pertanian dan perkebunan tetap menjadi penggerak utama perekonomian di Kabupaten Malang, sehingga Pemkab Malang sangat serius melindungi lahan sawah melalui Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2015 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Kabupaten Malang. Dalam perda ini, lahan pertanian pangan berkelanjutan ditetapkan seluas 45.888,23 hektare. (end)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Advertisement

Trending