Connect with us

SURABAYA

Pelindo III Tanam 51.900 Bibit Mangrove

Published

on

Penanaman mangrove yang dilakukan oleh Pelindo III bekerja sama dengan TNI.

Jatimraya.com, Surabaya – PT Pelabuhan Indonesia III menanam sebanyak 51.900 bibit mangrove di beberapa wilayah pelabuhan yang menjadi kewenangan perseroan, seperti di Cilacap, Semarang, Benoa, Kupang, Lembar, Tanjung Wangi, dan Maumere, tujuannya untuk menjaga ekosistem hutan mangrove di sejumlah wilayah.

Direktur Sumber Daya Manusia Pelindo III, Toto Heliyanto di Surabaya, Senin (7/10/2019) mengatakan penanaman juga dilakukan dengan kerja sama TNI dalam rangkaian memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke 74 TNI dengan tema “Selamatkan Bumi Untuk Anak Cucu Kita”.

“Pelindo III menyambut positif program penanaman mangrove secara serentak yang dilakukan TNI dari Sabang sampai Merauke. Saya sangat bangga dan ini merupakan peran nyata kepedulian Pelindo III terhadap lingkungan adalah dengan menjaga ekosistem hutan mangrove di wilayah kerjanya,” katanya.

Komandan Koarmada II Laksda TNI Heru Kusmanto, dalam kegiatan itu mengatakan kegiatan tanam mangrove merupakan sebuah langkah awal bagi TNI bersama dengan BUMN Kepelabuhanan dan masyarakat untuk melestarikan lingkungan terutama di sekitar laut dan pantai.

Hadirnya hutan mangrove sangat berperan penting dalam menjaga garis pantai agar tetap stabil, sebab kehadiran populasi pohon dan semak yang ada pada hutan mangrove dapat melindungi tepian pantai dari terjangan ombak langsung yang berpotensi menghantam dan merusak bibir pantai.

“Selain itu, peran penting hutan mangrove lainnya yakni melindungi pantai dan tebing sungai dari kerusakan, seperti erosi dan abrasi,” tuturnya.

Ia berharap, aksi ini dapat memberikan manfaat bagi lingkungan khususnya di sekitar wilayah laut dan pantai, serta bisa untuk keberlanjutan kehidupan anak cucu di masa yang akan datang. (ami)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

JATIM RAYA

Nama-Nama yang Bersiap Menggantikan Risma

Published

on

Catatan Tofan Mahdi tentang Kota Surabaya (2)

JatimRaya.Com, Warga Surabaya, termasuk yang sekarang tinggal di luar kota , berharap pengganti Tri Rismaharini adalah sosok walikota yang memiliki kaliber yang sama. Tinggal mempertahankan dan melanjutkan. Bukan hal yang susah selama pemimpin eksekutif di kota tersebut memiliki komitmen dan keberpihakan yang nyata kepada kemajuan kota dan kesejahteraan masyarakatnya. Bukan walikota yang terombang-ambing oleh tarik-menarik kepentingan politik.

“Andaikan Pak Dahlan (Dahlan Iskan) berkenan maju sebagai calon walikota Surabaya, selesai sudah diskusi kita soal Pilwali 2020 ini,” guyon seorang teman wartawan kepada saya. Saya setuju pendapat itu meski tentu tidak setuju dan tidak ikhlas Pak Dahlan Iskan, guru jurnalistik dan manajemen saya, di-“downgrade” menjadi walikota dari posisi yang pernah diemban sebelumnya yaitu Menteri BUMN dan tentu saja bakal calon presiden.

Guyonan teman tadi jadi mengingatkan saya pada peristiwa 15 tahun yang lalu ketika PDIP yang akan mengusung Bambang DH sebagai Cawali Surabaya melakukan jajak pendapat. Tujuan inti dari jajak pendapat itu adalah untuk melihat siapakah figur yang kira-kira bisa mengalahkan Bambang DH dalam pilwali. Dari hasil pendapat itu, hanya ada satu nama yang hampir pasti akan mengalahkan Bambang DH, yaitu Dahlan Iskan. Pak Dahlan waktu itu adalah Chairman Jawa Pos Group dan juga CEO PT Panca Wira Usaha (PWU), BUMD milik Pemprov Jatim. Dari hasil jajak pendapat itu, PDIP kemudian melalukan komunikasi dengan Pak Dahlan untuk sounding apakah tokoh pers nasional ini akan maju. Bisa dipastikan Pak Dahlan tidak akan bersedia maju dalam Pilwali Surabaya 2005 tersebut.

Tampaknya PDIP memilih aman dengan meminang Pak Dahlan agar berkenan untuk menunjuk orang yang direstui untuk maju sebagai calon wakil walikota mendampingi Bambang DH. Yang ketiban sampur adalah senior saya Arif Afandi yang saat itu menjadi Pemimpin Redaksi Jawa Pos. Skenario itu pun mulus dan pasangan Bambang DH – Arif Afandi terpilih sebagai Walikota – Wakil Walikota Surabaya 2005-2010. Namun Arif Afandi pernah bercerita kepada saya bahwa proses politik ketika dia berhasil mendampingi Bambang DH tidak sesederhana itu. Ada proses politik yang dia lakukan sendiri juga.

Karena pertarungan yang belum tuntas pada 2010, karena saat itu pasangan Arif Afandi – Adies Kadir kalah tipis dengan Risma – Bambang DH apakah Arif akan maju lagi pada 2020 ini?

“Saya tidak akan maju lagi Fan, wis cukup di politik. Sekarang tidak cukup hanya bermodal gagasan,
harus punya uang yang cukup,” kata Arif Afandi melaui pesan WA kepada saya kemarin (26/2).

Dalam sebuah kesempatan silaturahmi di kediaman Pak Dahlan Iskan di Jakarta sekitar sebulan lalu, saya sempat menyinggung tentang Pilwali Surabaya 2020. Tepatnya saya bertanya kepada Pak Dahlan apakah Azrul Ananda akan maju dalam Pilwali 2020. Karena saya pernah bekerja cukup dekat dengan Azrul dan tahu persis pemikiran-pemikiran Azrul sehingga saya yakin di tangan putra sulung Pak Dahlan Iskan ini, Surabaya bisa semakin maju. Cukup lama memimpin Jawa Pos dan sekarang menjadi Presiden Persebaya, Azrul termasuk potential candidate di luar partai politik yang memiliki tingkat popularitas cukup tinggi. Bahkan dibandingkan nama-nama kandidat yang sekarang muncul ke publik, popularitas Azrul Ananda mungkin yang tertinggi. Namun dalam dunia politik popularitas dan elektabilitas adalah dua hal yang berbeda.

“Anaknya (Azrul Ananda, Red.) gak mau. Kalau mau ya saya dukung, tapi dia gak mau,” kata Pak Dahlan Iskan seraya berpesan kepada saya pribadi agar tidak usah ikut-ikut politik praktis.

“Istiqomah saja di jalur profesional dan bisnis seperti sekarang. Sudah bagus,” kata Pak Dahlan.

“Baik Pak siap,” kata saya.

Sekitar dua pekan setelah pertemuan saya dengan Pak Dahlan tersebut, saya menerima kiriman video dari teman tentang dukungan lisan Pak Dahlan Iskan kepada salah satu tokoh yang bersiap maju dalam Pilwali Surabaya 2020. Tokoh yang didukung Pak Dahlan tersebut adalah Machfud Arifin.

Saat pulang ke Surabaya pekan lalu, saya amati billboard yang paling banyak di jalanan adalah milik Irjen Pol (Purn.) Machfud Arifin (59 tahun). Sebelum pensiun Machfud menjabat Kapolda Jatim. Dari berbagai kandidat yang muncul sampai saat ini, sepertinya Machfud Arifin adalah yang paling siap secara mental, spiritual, dan finansial. Diantarkan sahabat saya Imam Syafii (Anggota DPRD Kota Surabaya dari Partai Nasdem), Machfud sudah sowan ke kantor DPP Partai Nasdem di Jakarta untuk menjajaki kemungkinan mendapatkan dukungan dan rekomendasi dari partai yang dipimpin Surya Paloh tersebut. Dengan penampilan dan gaya milenial, pensiunan jenderal bintang dua ini sudah turun ke bawah bertemu dengan masyarakat yang berpeluang menjadi konstituennya nanti.

Menurut sejumlah teman, Machfud sangat mungkin didukung hampir semua partai politik untuk melawan jago dari PDI Perjuangan. Benarkah demikian? Belum bisa dipastikan. Masih jauh. Tapi Machfud sudah muncul ke publik dan siap bertarung pada September nanti.

Yang sangat krusial dan ditunggu oleh publik Surabaya adalah turunnya surat rekomendasi dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Sekali lagi, Surabaya adalah kandang banteng. Siapapun sosok yang sudah mendapat restu dari Mbak Mega berpeluang sangat besar memenangi Pilwali Surabaya. Koalisi Partai Golkar dan Demokrat pada 2010 (saat Partai Demokrat masih menjadi ruling party), tetap gagal menaklukkan Banteng di Surabaya. Tentang kandidat dari PDIP sudah banyak diulas oleh teman-teman wartawan maupun pakar politik di Surabaya. Isunya bersifat internal yaitu persaingan antara kandidat yang dijagokan oleh Bambang DH (Ketua Bapilu DPP PDIP) dan kandidat yang diusulkan Tri Rismaharani. Kepada siapa Mbak Mega menjatuhkan pilihan? Kita lihat saja nanti. Bambang DH adalah yang memegang mesin politik PDIP di Surabaya sedangkan Risma yang dinilai sukses dua periode memimpin Surabaya adalah “anak emas” Mega. Kita tunggu saja. Dalam konteks ini nama-nama yang beredar antara lain: Wisnu Sakti Buana (Wakil Walikota Surabaya sekarang), Armuji (Anggota DPRD Jatim Fraksi PDIP), dan Dyah Katarina (istri Bambang DH).

Di luar itu, sejumlah nama juga mulai beredar di publik termasuk calon-calon perorangan (independen). Bahkan berbagai spekulasi liar juga sempat muncul menyambut Pilwali Surabaya 2020
ini seperti PDIP akan kembali menurunkan Puti Guntur Soekarno yang sebelumnya gagal dalam Pilkada Jawa Timur. Juga sempat beredar rumor Emil Dardak (Wagub Jatim) dan Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi) akan maju dalam Pilwali Surabaya 2020. Daripada berspekulasi lebih baik kita menunggu jadwal KPU Surabaya hingga mengumumkan secara resmi nama-nama Calon Walikota dan Wakil Walikota Surabaya periode 2020-2025.

Membangun Kota Membangun Peradaban

Membangun kota bukan hanya membangun fisik tetapi juga membangun sebuah peradaban. Dan Surabaya dalam kurun 10 tahun terakhir berhasil melakukan hal tersebut. Dalam hal yang paling kasat mata, urusan tertib berlalu lintas, Surabaya sukses menjadi kota yang paling tertib dan relatif lebih beradab dibandingkan kota-kota besar lain di Indonesia. Pada setiap traffic light, saya melihat kendaraan bermotor tertib berhenti di belakang garis. Menyebrang jalan di zebra cross pun menjadi nyaman. Kendaraan bermotor melawan arus berjamaah, belum pernah saya lihat di Surabaya. Apakah berarti kesadaran tertib berlalu lintas warga Surabaya sudah baik? Mungkin juga belum. Mereka tertib mungkin karena takut ada CCTV yang merekam dan kalau melanggar akan kena tilang. Apapun itu, tujuan mencapai ketertiban bisa diwujudkan. Pada masyarakat di mana saja, bahkan di negara maju sekalipun, social order hanya bisa dicapai dengan law enforcement. Tanpa itu non sense. Memang kesadaran masyarakat juga menjadi kunci dalam sukses tidaknya sebuah kota membangun peradaban warganya. Namun tanpa adanya dorongan dari pemerintah setempat juga tanpa dukungan infrastruktur yang mendukung terbangunnya masyarakat yang beradab, rasanya berat.

Cerita tentang wajah kota Surabaya sekarang akan sangat panjang dituliskan di sini. Terlalu banyak hal baik untuk diceritakan. Gang Dolly bisa hilang itu sebuah pencapaian. Kawasan Jalan Irian Barat, juga wajah malam di sepanjang Jalan Panglima Sudirman, semua tinggal kenangan. Kawasan Jembatan Merah yang dulu kumuh sekarang juga bersih. Kenjeran juga menjadi jujugan. Bahkan kita pun sulit menemukan tunawisma, gelandangan, juga pengamen jalanan di lampu-lampu merah. Padahal di Roma, ibukota Italia, masih banyak pengamen jalanan. Bahkan tukang membersihkan kaca mobil di lampu merah (traffic light), juga bisa ditemukan di Roma. Namun sudah tidak ada di Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia.

Hal-hal baik ini, teman-teman semua pasti sepakat, harus dipertahankan oleh siapapun yang memimpin Surabaya berikutnya. Syukur-syukur jika
bisa lebih baik. Kalau ada yang kurang dari Surabaya mungkin kurangnya objek wisata. Memang Surabaya adalah kota industri dan perdagangan, namun jujugan wisata dan objek-objek untuk tempat wisatawan selfie, juga perlu dipikirkan. Jika Anda bertanya kepada orang Surabaya atau Jawa Timur tentang objek wisata apakah yang ada di Surabaya, saya pastikan mereka akan langsung menyebut Kebun Binatang Surabaya. Urusan membangun objek wisata, saya. melihat Kota Batu adalah juaranya.

Ini semua tentang yang kasat mata,
belum bicara tentang strategi pertumbuhan ekonomi, investasi, juga tentang bagaimana pelayanan publik dijalankan. Semua hal tersebut harus dibangun menjadi lebih baik dan semakin baik. Anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) harus digunakan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan dan kenyamanan masyarakat. (bersambung)

*Tofan Mahdi, Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos (2007) dan Pemimpin Redaksi SBO TV Surabaya (2008-2009)/ Email: tofan.mahdi@gmail.com


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

JATIM RAYA

Bu Risma dan Tugas yang Segera Purna

Published

on

foto: Jonathan Ivander Kurniawan

Catatan : Tofan Mahdi tentang Kota Surabaya (1)

 JatimRaya.Com, Pekan lalu, selama dua hari, saya pulang ke Surabaya. Bagi yang pernah tinggal di Surabaya atau cukup lama meninggalkan kota ini, setidaknya setelah satu dekade atau lebih, pasti kaget dengan wajah Surabaya. Sudah sangat berubah dan tidak berlebihan jika secara kasat mata saya berani menyebut, saat ini Surabaya adalah kota terbaik di Indonesia. Atau lebih tepatnya ibukota provinsi terbaik di Indonesia.

Karena alasan dinas, saya telah mengunjungi hampir semua ibukota provinsi di Indonesia (minus dua ibukota di Papua). Saya belum pernah sama sekali ke Papua. Semua kota-kota di Indonesia tipologi-nya sama. Bahkan banyak kota yang terkesan jalan sendiri tanpa tampak kehadiran pemerintah-nya. Ciri khas kota-kota di Indonesia adalah kondisi lalu lintas yang semrawut dan pengendara kendaraan bermotor yang tidak tertib. Tidak ada akses bagi pejalan kaki yang memadai (trotoar), beberapa sudut kota ada yang kumuh dan tidak tertata, pasar tumpah, hingga berbagai persoalan sosial lain. Sampai hal-hal kecil lain juga saya amati seperti kondisi rambu dan lampu lalu lintas, marka jalan, sampai masih adakah sampah berserakan di jalan. Namun saya tidak mengukur bagaimana pelayanan publik di kota tersebut, sudah baik, transparan, manusiawi, dan atau masih biasa-biasa saja.

Kalau diminta menyebut kota-kota besar manakah yang juga baik menyusul Surabaya, saya akan sebut: Balikpapan (bukan ibukota tapi tertib dan bersih), Jogjakarta, (mungkin) Semarang, dan surprisingly saya akan menyebut kota Ambon. Di luar kota-kota besar tadi, banyak kota-kota kecil di Indonesia yang juga bagus dan nyaman seperti Ngawi, Purwokerto, Magelang, Wonosobo, Tanjung Pandan (Belitung), Bukitinggi (Sumbar), dan masih banyak lagi. Kota-kota besar umumnya menghadapi tantangan ledakan jumlah penduduk sehingga perlu kerja keras yang ekstra untuk menata kotanya.

Sekali lagi, semua penilaian di atas adalah pandangan subjektif saya. Semata-mata dari apa yang saya lihat dan rasakan. Saya tidak menganilisis APBD kota tersebut, PDRB-nya berapa, PDRB per kapita, tingkat UMK, pun tanpa mengukur tingkat kebahagiaan warganya. Seperti halnya saat saya menulis tentang kota-kota di luar negeri yang pernah saya kunjungi, saya hanya menulis dari apa yang saya lihat dan alami saja. Jika misalnya seperti di Amsterdam atau Singapore kotanya bagus dan indah tetapi warganya tidak bahagia karena biaya hidup yang mahal, itu hal lain yang tidak masuk dalam koteks yang saya tulis. Pun tentang Surabaya ini, semata-mata dari apa yang saya lihat saat ini dan yang pernah saya lihat dan rasakan satu dekade lalu saat selama lebih 12 tahun tinggal di kota ini.

Surabaya di Tangan Bu Risma

Siapakah sosok di balik perubahan wajah kota Surabaya? Semua sepakat hanya ada satu nama: Tri Rismaharini atau arek Suroboyo biasa memanggil Bu Risma. Tangan dingin Bu Risma mulai kelihatan saat dia masih menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya zaman walikota Bambang DH. Pelan tapi pasti, wajah Kota Surabaya berubah dari sebuah kota yang gersang, panas, kotor, dan banyak wilayah yang kumuh menjadi kota yang berangsur bersih dengan mulai banyak pohon ditanam di sudut-sudut kota. Juga mulai banyak dibangun taman-taman yang indah. Pelan tapi pasti dan konsisten. Kalau dihitung sejak Bu Risma menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan tahun 2005, berarti sudah 15 tahun hingga hari ini, wajah Surabaya pun berubah menjadi seperti yang kita lihat sekarang.

Saya tidak kenal dekat dengan Bu Risma. Hanya pernah dalam sebuah kesempatan di Universitas Kristen Petra, saya menjadi moderator dan Bu Risma sebagai pembicara. Saat itu Bu Risma sudah “naik pangkat” sebagai Kepala Bappeko (Badan Perencanaan Pembangunan Kota). Kalau tidak salah itu tahun 2008. Usai seminar, kami sempat ngobrol. Namun lebih tepatnya saya mendengarkan curhat Bu Risma karena habis ditegur sama Pak Wawali Surabaya Arif Afandi WakGus Arif Afandi. Gegara Bu Risma dianggap menolak saat dipanggil untuk menghadap ke ruangan Wawali. Mungkin karena Bu Risma tahu saya temannya Wawali Arif Afandi, jadi dia curhat.

“Aku iku pas sik rapat sama Pak Bambang DH (walikota), lha koq terus di-sms Pak Arif ngene ‘sekarang sudah tidak mau menghadap saya ya. Saya masih wakil walikota Anda lho.’ Sampaikan ke Pak Arif ya Mas, waktu itu aku masih di ruangan Pak Wali,” kata Bu Risma. Pada sebuah kesempatan bertemu Arif Afandi, curhat dan pesan Bu Risma tadi langsung saya sampaikan.

“Ini bukan sekali,” kata Arif Afandi kepada saya. Meski waktu itu Pilwali Surabaya masih dua tahun lagi, tapi suhu politik kota Surabaya sudah panas. Santer terdengar, Bu Risma akan maju sebagai calon walikota. Arif Afandi sendiri juga akan maju sebagai calon walikota karena Bambang DH sudah dua periode sebagai Walikota Surabaya. Singkat cerita, pada Pilwali 2010, pasangan Tri Rismaharini – Bambang DH yang diusung PDIP mengalahkan tiga pasangan lain, salah satunya yaitu pasangan Arif Afandi – Adies Kadir yang diusung Partai Demokrat dan Golkar. Selisih suaranya cukup tipis hanya sekitar 3 persen basis poin.

Surabaya tetap menjadi kandang banteng. Dalam Pilwali 2015, pasangan Tri Rismaharini – Whisnu Sakti Buana menang mutlak dengan meraih suara 86,3% mengalahkan pasangan Rasiyo – Lucy Kurniasari.

Meski bukan “anak kandung” Banteng (PDIP), namun Bu Risma yang DNA-nya adalah seorang birokrat mendapatkan tempat yang istimewa di kandang Banteng. Sukses Bu Risma memimpin Surabaya membuat Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri jatuh hati. Bu Risma bisa menjadi ikon PDIP, menjadi role model pemimpin publik dari PDIP, dan mendapatkan akses komunikasi yang istimewa langsung dengan Mbak Mega.

Pernah saya mendengar sebuah cerita tentang betapa Bu Risma sangat disayangi Mbak Mega. Dalam sebuah kunjungan Megawati ke Surabaya, Bu Risma yang saat itu sudah menjadi walikota, lupa atau sengaja tidak diberitahu oleh jajaran PDIP Surabaya (Jatim) tentang kedatangan Mbak Mega. Ketika tiba di Surabaya, Mbak Mega justru yang menanyakan di mana Bu Risma dan meminta para pengurus PDIP memanggil Bu Risma untuk mendampingi Mbak Mega selama kunjungan ke Surabaya. Nanun cerita ini belum pernah saya konfirmasi kebenarannya kepada teman-teman di PDIP atau kepada Bu Risma sendiri. Dan kecintaan Mbak Mega kepada Bu Risma ini terbukti dengan amannya posisi Bu Risma selama 10 tahun memimpin Surabaya. Tidak ada pengurus PDIP yang berani mengusik kepemimpinan Risma, karena mereka akan berhadapan dengan peminpin tertinggi mereka sendiri. Sebuah privilege dan prestasi politik yang luar biasa dari seorang Tri Rismaharini.

Tahun ini, Bu Risma akan purna tugas. Prestasi dan legacy yang ditinggalkan di Kota Surabaya akan abadi, seabadi legacy yang ditinggalkan salah satu Walikota Surabaya yang juga melegenda, yang dikenal sebagai bapaknya Pasukan Kuning, yaitu Purnomo Kasidi.

Ke mana Bu Risma setelah dari Surabaya? Apakah PDIP akan membawa dia untuk bertarung sebagai calon gubernur di Jakarta? Wallahualam. Yang pasti dan tidak kalah menarik adalah siapa kira-kira yang akan melanjutkan legacy Bu Risma di Surabaya? Dan sebagian nama yang sepertinya sudah siap bertarung dalam Pilwali Surabaya 2020 sudah bertebaran di sudut-sudut jalan kota Surabaya. Siapa saja mereka? Mampukah mereka? Tunggu tulisan saya yang kedua. (bersambung)

*Tofan Mahdi, Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos (2007) dan Pemimpin Redaksi SBO TV Surabaya (2008-2009)/ Email: tofan.mahdi@gmail.com

 


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

JATIM RAYA

Andy dan Hendry Kompak Pimpin IKA Spenda Surabaya Periode Tahun 2020 – 2023

Published

on

Foto : Andy Setiawan Ketua Umum IkaSpenda Surabaya Periode th 2020 - 2023 (kaos putih) mendapat mandat dari Ketua Pembina IkaSpenda Muhammad (Cak Mumu)

JatimRaya.Com, SURABAYA – Ikatan Keluarga Alumni SMP Negeri 2 Surabaya (IKA Spenda) telah menggelar Musyawarah Anggota belum lama ini.
Dalam Musyawarah Anggota tersebut dihadiri sedikitnya 26 Alumni dari lintas perwakilan angkatan.
Sesuai dari Anggaran Dasar IKA Spenda pada Musyawarah Anggota tersebut telah memilih jajaran Pembina IKA Spenda yang di ketuai oleh Muhammad (Momo) Alumni ’86 SMP Negeri 2 Surabaya.
Pada kesempatan yang sama Jajaran Dewan Pembina juga memilih Kepengurusan IKA Spendadengan masa bakti 2020 – 2023.
Pada gelaran itu terpilih Andy Setiawan, Alumni tahun 1989, sedangkan HR. Hendry Alumni ’86 sebagai Sekretaris Jendral.

Kedua Alumni tersebut mendapat amanap untuk mengurus grbong Kepengurusan IKA Spenda masa bakti 2020 – 2023 yang sarat dengan pengalaman.
Andy Setiawan atau biasa dipanggil Andy selama ini dikenal malang melintang di berbagai Organisasi, bahkan kini ia menjabat manajer di sebuah perusahaan Sari Roti dan pernah juga gabung di perusahaan media terbesar di Jawa Timur.
• Pemkot Surabaya Anggarkan Rp 20 Milyar untuk Pembangunan Underpass Penghubung KBS-Terminal Joyoboyo
• Nindya, Juara PWI Jatim Idol Diundang Tampil dalam Puncak HPN 2020 di Gedung Grahadi
• Mulut Bu Guru TK di Surabaya Dibekap Penculik, Sosok Pelaku Terekam di CCTV, Warga Sampai Heboh
Rangkaian acara inipun belum cukup disini, pada hari Minggu (23/2/2020), di Surabaya, dalam rangkah melengkapi organ Kepengurusan IKA Spenda menyelenggarakan ‘Konsolidasi dan Pemantapan’.
Bak, gayung bersambut kepengurusan periode 2020 – 2023 para Alumni ingin memberikan kontribusi kepada Stake Holder SMP Negeri 2 Surabaya, dengan kesediannya menjadi pengurus IKA Spenda.
Di sela-sela acara para awak media menemui Ketua terpilih IKA Spenda Andy Setiawan, yang telah memaparkan struktur pengurus IKA Spenda, menyampaikan ungkapan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada para para alumni yang bersedia menjadi pengurus.
Dalam kesmepatan tersebut Andy mengajak para pengurus agar berkarya ber-sama-sama demi kemanjuan IKA Spenda dengan mengedepankan Silahturohim.
Hal itu sesuai dengan arahan dari Ketua Pembina, bahwa kepengurusan IKA Spenda periode ini haruslah solid, kuat, bersatu,.
“Niatkan semuanya karena Ibadah kepada-NYA,” tegas Andy.
Hal senada disampaikan HR. Hendry Sekjend IKA Spenda kepada media, gal dari semua ini bahwasanya IKA Spenda adalah sebuah wadah dari para alumni yang memberikan kemanfaatan bagi Alumni dan kemajuan almamater.
“Dengan mewujudkan program-program kerja organisasi sesuai dengan visi IKA Spenda yang unggul, bermartabat dan bermanfaat,” tukas Hendry.
Selanjutnya rangkaian puncak kegiatan IKA Spenda adalah penyelenggaran Pengukuhan Pengurusnya, Tgl 7-8 Maret 2020, di Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, yang akan dilantik oleh Dewan Penasehat IKA Spenda yakni A. Firman Wibiowo, Dirut BNI Syariah, yang saat ini para pengurus sedang meminta waktu beliau berkenan melakukan penyematan di puncak acara tersebut.


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Advertisement

Trending