Connect with us

NEWS

MENUNGGU STRATEGI RESTORASI CITRA SANDHY SONDORO

Published

on

Sandhy Sondoro, adalah seorang penyanyi, pencipta lagu dan pemain gitar berkebangsaan Indonesia.

Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

BISA dipastikan, saat-saat ini adalah waktu yang “sangat tidak nyaman” bagi penyanyi Sandhy Sondoro. Masalahnya, gelombang serangan medsos menyerang citra, reputasi dan nama baiknya.

Nama Sandhy menjadi trending dengan tagar #SandhySondoroCabul. Hal ini berwal dari cuitan akun @opposite6890 yang menunjukkan hasil tangkapan layar akun Twitter Sandhy Sondoro, yakni @SondoroMusic.

Dari sisi komunikasi jelas merusak citranya. Kok Sandhy Sondoro dibilang cabul? Mencabuli siapa? Seberapa besar bentuk percabulannya? Benarkah itu perbuatan cabul?

Setelah ramai dibicarakan, akun Sandhy Sandoro dengan username @SondoroMusic tiba-tiba saja digembok. Padahal sebelumnya masih bisa bisa diakses publik.

Padahal media pasti menunggu-nunggu jawaban dari pelantun lagu “Malam Biru” untuk memenuhi prinsip pemberitaan yang berimbang, yaitu cover both side, sesuai perintah Kode Etik Jurnalistik.

Publik dan para penggemarnya pasti juga menunggu-nunggu respon apa yang akan dilakukan oleh Sandhy Shondoro.

Perlu manajemen reputasi

Apa yang menimpa Sandhy Sondoro biasa disebut krisis. Krisis merupakan suatu permasalahan besar yang tidak terduga dan memiliki dampak negatif sekaligus positif.

Pada korporasi, permasalahan ini bisa menghancurkan organisasi, karyawan, hingga reputasi perusahaan. Namun jika krisis dapat ditangani dengan baik oleh organisasi atau perusahaan, maka reputasi dan citra perusahaan tersebut justru akan menjadi lebih positif.

Krisis berbeda dengan masalah sehari-hari, krisis sering menarik minat dan menjadi perhatian publik melalui liputan media. Keadaan seperti ini dapat mengganggu institusi maupun tokoh personal seperti selebriti.

Diperlukan langkah-langkah komunikasi yang tepat, strategi public relations dan manajemen reputasi yang efektif.

Karena serangan reputasi sudah terjadi maka manajemen reputasi yang sebaiknya dilakukan adalah image restoration strategi (strategi pemulihan citra atau restorasi reputasi.

Mengenai taktik dan langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk strategi pemulihan citra, banyak jalan yang ditawarkan oleh Prof. William Benoit penemu Image Restoration Theory.

Rekomendari restorasi citra

Tidak gampang untuk mengambil keputusan yang terbaik agar bisa mengcounter pemberitaan negatif seputar dirinya, sehingga Sandhy Sondoro memerlukan waktu yang agak panjang meskipun ditunggu publik.

Padahal keinginan untuk mendapatkan citra yang baik ataupun reputasi yang bagus adalah cita-cita semua orang. Ya, orang yang baik dan orang yang buruk ingin citranya selalu baik.

Orang yang lebih buruk dari Shandy Sondoropun ingin citranya selalu, termasuk orang-orang yang menyerang dan berkomentar burukpun ingin citranya baik.

Lalu apa yang harus dilakukan? Menurut pandangan saya, situasi krisis ini harus dipadamkan segera, pada kesempatan pertama, agar api krisis tidak menghanguskan semuanya.

Dalam konteks kecepatan meredam isu negatif, Sandhy Sondoro perlu belajar dari selebritis yaitu Robin Onsu yang sangat sigap meredam isu pesugihan yang menyerang bisnisnya. Api hoaks langsung padam seketika.

Masalahnya, strategi restorasi citra apa yang tepat dilakukan Sandhy Sondoro untuk masalah ini? Kalau pertanyaan ini diajukan kepada saya, jawabannya adalah Strategi Mortification.

Mengapa? Dalam pandangan saya, strategi restorasi citra Mortification ini pilihan yang terbaik. Baik salah/tidak merasa salah, meminta maaf merupakan perbuatan yang terpuji.

Seseorang yang berani meminta maaf sejatinya telah menunjukkan keberaniannya dalam berkomitmen untuk bersegera memperbaiki diri.

Mengakui bersalah, dan meminta maaf dari orang-orang yang telah dirugikan atau tersinggung tentu baik, apalagi tidak ada yang dirugikan adalah hal yang luar biasa.

“Jika kita percaya permintaan maaf itu tulus, kita akan memaafkan suatu kesalahan” tulis Benoit yang medasari Strategi Mortification ini.

Strategi Mortification menjadi alternatif paling akhir yang disebut oleh Prof. William Benoit dalam Image Restoration Theory (teori pemulihan citra).

Strategi ini dinilai sangat elegan, karena mengakui kesalahan, dan dengan jelas meminta pengampunan atas kesalahan tindakan yang sudah dilakukan.

Bahkan srategi “penyiksaan diri” dalam teori Benoit pernah menjadi tema utama yang menarik dari tulisan pakar komunikasi yang lainnya, yaitu Burke.

Adapun mekanismenya bisa dilakukan melalui media press conference, distribusi press release, maupun publikasi di akun medsos Sandhy Sondoro sendiri. Namun menggunakan tiga media di atas, hasilnya akan sangat dahsyat.

Budi Purnomo Karjodihardjo adalah praktisi media dan komunikasi.

Baca juga tulisan Budi Purnomo Karjodihardjo yang lainnya, terutama seputar manajemen reputasi, manajemen krisis, pencitraan, restorasi reputasi, dan pemulihan citra di official website Budipurnomo.com. Terima kasih.

Budi dan timnya, RESTART – Media Restoration Agency, menyediakan waktu untuk membantu personal/korporasi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Crisis Management, Image Restoration Theory, dan Online Reputation Management]

(*) Tulisan ini sudah dipublikasikan media Tribunnews.com


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

NEWS

RED ALERT DAN UPAYA RESTORASI REPUTASI BUMN

Published

on

Budi Purnomo Karjodihardjo adalah praktisi media dan komunikasi.

Oleh: Budi Purnomo Karjodihardjo

Hari-hari ke depan adalah hari-hari yang sangat menegangkan bagi sejumlah bos BUMN yang mendapat predikat red alert (sinyal merah) dari Menteri Keuangan Sri Mulyani. Altman Z-Score memberikan skor berdasarkan hasil analisis prediksi kebangkrutan, tingkat kesulitan likuiditas, dan kemampuan memenuhi kewajiban.

Predikat red alert mengindikasikan BUMN termasuk zona financial distress — media menyebut dengan istilah “rentan bangkrut”. Sedangkan, yellow alert adalah zona waspada, dan green alert merupakan zona aman.

Di hadapan anggota DPR-RI, Menkeu Terbaik di Asia Pasifik Tahun 2019 versi Majalah Keuangan Finance Asia itu juga mengumumkan puluhan BUMN dalam zona red and yellow alert.

Dari kacamata komunikasi, saya melihat pengumuman ini sebagai double crisis, ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga pula. Situasi yang sangat mengenaskan. Dengan adanya berita buruk dari Kemenkeu ini, maka BUMN yang bertanda merah dan kuning akan semakin terpuruk, setidaknya dalam hal reputasi.

BUMN yang semula reputasinya kinclong — meskipun kinerjanya kurang baik, kini langsung terpuruk. Yang tadinya masih berpotensi reputasinya terpuruk, kini menjadi realitas. Padahal, harusnya dipahami bahwa corporare reputation memiliki peranan penting bagi keberhasilan bisnis dan menjadi salah satu intangible asset yang dimiliki oleh organisasi atau perusahaan .

Jika demikian adanya, apa yang harus dilakukan BUMN? Segera melakukan berbagai langkah komunikasi, strategi public relations dan manajemen reputasi untuk melakukan restorasi reputasi dan pemulihan citra.

Urgensi Restorasi Reputasi
Bagi korporasi termasuk BUMN, semakin baik reputasi perusahaan di mata pasar maka semakin diminati produk/jasa perusahaan tersebut untuk digunakan. Semakin besar tingkat minat pasar terhadap produk/jasa maka semakin besar peluang perusahaan menambah sales. Dan pada akhirnya semakin besar perusahaan tersebut konsisten dalam mencetak laba.

Perusahaan dengan reputasi yang baik akan dinilai tinggi oleh pasar. Produk/jasa yang dihasilkanpun juga akan dihargai tinggi, karena reputasi memiliki harga tersendiri. Belum lagi jika korporasi tersebut sudah menjadi public company, tentu reputasi itu ibarat gelas kaca yang mesti dijaga dengan segala cara karena sangat menentukan harga saham di pasar modal.

Bukan itu saja, jika saat ini korporasi sedang mengambil upaya restrukturisasi dengan lembaga keuangan, atau sedang melakukan penjajakan bisnis dengan investor potensial, tentu corporate action bisa terganggu.

Begitulah, pentingnya reputasi bagi korporasi. Oleh karenanya, tidak ada pilihan lain, di saat reputasi terpuruk, BUMN harus segera mengambil upaya image restoration atau pemulihan citra atau restorasi reputasi.

Jika reputasi BUMN baik, tentu akan mempermudah jalan bagi korporasi untuk memperbaiki kinerja keuangan BUMN, apapun jalan restrukturisasi yang ditempuhnya. Sebaliknya, reputasi yang buruk akan menjadi batu sandungan tersendiri.

Aktivasi Media Center
Dalam pandangan saya, pasca cap buruk disematkan, mestinya BUMN segera membentuk Tim Manajemen Krisis untuk mengukur seberapa besar daya rusaknya terhadap reputasi perusahaan.

Setelah mengetahui besar kecilnya krisis yang ditimbulkan, jangan lantas berpikir tidak ada lagi gempa susulan. Ingat, krisis bisa terjadi sewaktu-waktu.

Mengapa? mungkin saja DPR ingin mengorek info lebih dalam mengenai apa yang menyebabkan BUMN di ambang kebangkrutan. Belum lagi pengamat, peneliti ataupun opinion leader yang inline dengan bisnis BUMN tersebut.

Belum lagi jurnalis dan media beranggapan bahwa bad news is good news, tentu akan mendalami masalah ini. Padahal banyak kelompok wartawan yang relevan dengan BUMN. Baik yang ngepos di Kantor Kemenkeu, Kantor Kemen BUMN ataupun Kantor Kementerian teknis lainnya.

Jika wartawan finansial (yang biasa meliput di pasar modal) mungkin lebih kebutuhan info yang menyangkut finansial. Namun, jika urusannya dengan wartawan yang biasa mangkal di Kepolisian, Kejaksaan Agung, atau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tentu lebih gawat jika masalahnya penyalahgunaan keuangan BUMN.

Di sinilah pentingnya Tim Manajemen Krisis untuk mengaktifasi lembaga Media Center (Tim Komunikasi, atau Tim Public Relations, atau apapun namanya). Selain bos BUMN yang diincar para pemburu berita atau media ketika krisis menerpa perusahaan, Tim Media Center menjadi salah satu nara sumber incaran mereka berikutnya.

Peran Tim Media Center lah yang menjadi penentu sukses-tidaknya perusahaan bisa melewati krisis dengan cepat atau lambat. Atau malah menambah beban masalah krisis, jika tidak melakukan langkah pemulihan reputasi dengan tepat.

Tim Media Center berperan strategis dalam menyiapkan spoke person yang tepat, antara lain menyiapkan bos BUMN untuk dapat menghadapi sekaligus menjawab pertanyaan media maupun publik, secara efektif.

Tim Media Center pula yang harus merumuskan proses perencanaan program komunikasi untuk penanganan krisis. Termasuk, mengatur lalu-lintas sekaligus memantau jalannya perkembangan krisis sampai berhasil dilalui.

Perlu Dukungan Pemerintah
Saat ini banyak juga bos BUMN yang sedang menunggu panggilan Menteri BUMN Erick Thohir yang sudah terang-terangan menyatakan akan melakukan pergantian bos BUMN hingga akhir tahun 2019 ini.

Bagaimana nasib bos BUMN yang mendapat predikat red alert dan yellow alert? Tentu seperti telor di ujung tanduk. Lalu bagaimana kiprah dan perjuangannya untuk mendongkrak kinerja BUMN? Mudah-mudahan saja mereka masih tetap semangat.

Dari sisi pergantian bos BUMN, pemerintah kelihatannya perlu segera mengeksesusinya segera agar tidak menimbulkan spekulatif tapi memberikan kepastian sehingga bisa memantapkan langkah BUMN ke depannya. Dengan demikian, momentum pergantian bos BUMN dan juga suntikan finansial dalam bentuk penanaman modal pemerintah bisa menjadi dorongan besar untuk start memulai pemulihhan citra atau restorasi reputasi BUMN.

Sesungguhnya dukungan pemerintah dalam memberikan iklim yang kondusif bagi BUMN tidak bisa diabaikan. Pernyataan (statement) yang bijak kepada publik sangat penting untuk memberikan sentimen positif kepada pasar.Memberikan predikat negatif atau statement buruk kepada BUMN bukan hanya menyulitkan BUMN itu sendiri, tetapi bisa juga menyulitkan pemerintah sebagai pemegang saham.

Jika BUMN tersebut sudah menjadi perusahaan publik, tentu pasar bisa langsung bereaksi negatif (harga saham bisa jatuh) terhadap sentimen yang tidak kondusif. Jika belum, bisa jadi akan menyulitkan langkah restrukturisasi ke depan.

Menjaga reputasi BUMN tetap baik dan memulihkannya citranya jika terpuruk adalah tanggungjawab semua pihak terutama bos (manajemen) BUMN dan pemegang saham (pemerintah), dan juga stakeholder.

Diperlukan simbiosis, sinergitas, kebersanaan, dan saling dukung serta bersatu padu untuk memulihkan reputasi. Jika reputasinya pulih, mudah-mudahan bisa diikuti memuluskan upaya penyehatan kinerja BUMN.

Yang jelas, jika sudah sehat manajemennya, kemudian menerapkan prinsip-prinsip good corporate governance, sekaligus menjalankan keterbukaan informasi publik secara konsisten, maka bisa dipastikan reputasi BUMN akan baik. Semoga.

Budi Purnomo Karjodihardjo adalah praktisi media dan komunikasi.

(*) Tulisan ini sudah dipublikasikan di media Investor.id

Baca juga tulisan Budi Purnomo Karjodihardjo yang lainnya, terutama seputar manajemen reputasi, manajemen krisis, pencitraan, restorasi reputasi, dan pemulihan citra di official website Budipurnomo.com. Terima kasih.

Budi dan timnya, RESTART – Media Restoration Agency, menyediakan waktu untuk membantu personal/korporasi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Crisis Management, Image Restoration Theory, dan Online Reputation Management.


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

NEWS

APA YANG BISA DILAKUKAN, JIKA REPUTASI ANDA BERNASIB SEPERTI EKS BOS GARUDA?

Published

on

Dirut PT Garuda Indonesia, Ari Askhara.

Oleh: Budi Purnomo Karjodihardjo

SULIT? Bingung? Tidak tahu harus berbuat apa? atau lebih baik diam? Mungkin itu beberapa alternatif jawaban yang muncul dalam pikiran Anda menghadapi masalah krisis.

Harus diketahui bahwa krisis yang menimpa eks bos Garuda bisa terjadi kepada bos BUMN yang lainnya juga.

Bukan hanya BUMN, tapi korporasi swasta juga. Jadi harus waspada.

Sifat krisis yang datangnya mendadak dan tidak terduga menyebabkan sulitnya antisipasi krisis, sekaligus keruwetan dalam upaya untuk memulihkannya krisis ke titik normal.

Krisis yang menimpa eks bos Garuda berasal dari tiga arah. Pertama, tudingan. Kedua, bencana karena kesalahan. Dan, ketiga kritik.

Kalau membaca media (baik medsos maupun mainstream) semuanya menjadi tsunami krisis yang saling susul-menyusul.

Pemicu krisis bisa berasal dari pihak luar eksternal, dan bisa juga dari internal.

Sayangnya dalam kasus eks bos Garuda ini disebabkan oleh internal, yang jika ditelusuri lebih mikro lagi, adalah dirinya sendiri.

Bagi pemerintah, kasus ini menjadi momentum yang sangat baik untuk memberikan peringatan sangat keras agar bos BUMN tidak main-main dalam pengelolaan usaha milik pemerintah itu.

Bahkan Menkeu RI Sri Mulyani sudah mengeluarkan rating BUMN mana yang kategori nyaris bangkrut, waspada, atau aman berdasarkan score tertentu.

Menurut saya, ini juga sinyal teguran yang sangat keras bagi BUMN yang kondisi finansialnya dalam tanda bahaya.

Bos BUMN yang terjaring dalam zona bahaya mestinya mengambil langkah yang aman untuk memberikan kontribusi maksimal untuk memperbaiki kinerja keuangan BUMN yang dikelolanya.

Jika tidak? kita tidak tahu apa yang terjadi di depan. Terpeleset sedikit saja, bos BUMN bisa menjadi model susulan seperti yang terjadi pada eks bos Garuda.

Menjadi momentum penting untuk gebrakan awal bagi pemerintahan baru membersihkan BUMN.

Reputasi Jatuh

Itu sudah pasti. Setiap krisis pasti akan menjatuhkan reputasi, citra, dan nama baik koorporasi/personal.

Daya rusak reputasinya tergantung kepada besar kecilnya krisis, apakah badai angin atau tsunami.

Berdasarkan persepsi publik yang dilansir oleh Newstensity terhadap dua isu, yaitu soal barang mewah ilegal di Garuda dan pemecatan bos Garuda, hasilnya warna merah, artinya mayoritas mengganggap negatif.

Data yang diambil untuk setiap isu adalah 500 media (untuk persepsi media), sedangkan untuk persepsi publik diperoleh dari data hampir 5000 tweet.
Sedangkan tokoh terkaitnya adalah Menteri BUMN Erick Thohir, Menkeu Sri Mulyani, dan Menhub Budi Karya Sumadi.

Tokoh terkait adalah narasumber yang paling sering dijadikan sumber rujukan pemberitaan di media.

Dengan demikian, pandangan saya, krisis yang menimpa eks bos Garuda adalah badai angin yang disertai tsunami.Bencana krisis yang sangat besar yang bisa jadi akan diikuti dengan gempa susulan yang lebih besar.

Mungkinkah bos BUMN membantah tudingan menteri, apalagi sampai tiga menteri sekaligus? Saya kira persoalannya bukan soal bantah-membantah.

Ini adalah masalah nyata yang sulit dibantah karena sudah terbukti sebagai pelanggaran oleh tim gabungan dari kementerian tersebut.

Saat Press Conference gabungan Menteri Sri dan Menteri Erick memaparkan secara terang benderang mengenai kronologi penyelundupan Harley Davidson tipe Shovelhead keluaran 1972 dan sepeda Brompton.

Lalu Harus Bagaimana?

Sebenarnya menjawab soal ini Menteri Erick sudah memberikan kata kuncinya, yaitu agar setiap bos BUMN memiliki jiwa Samurai, kalau salah minta maaf dan mengundurkan diri.

Berdasarkan referensi, Samurai adalah salah satu prajurit elite di Jepang.

Samurai ini berbeda dengan para prajurit elite yang lainnya, Samurai ini memiliki Bushido (kode etik) yang bagus untuk dicontoh.

Setidaknya, ada dua kode etik.

Pertama, Makoto atau Shin (Kejujuran dan tulus-iklas). Seorang Samurai harus memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran. Para ksatria harus menjaga ucapannya.

Kedua, Meiyo (Kehormatan) atau menjaga kehormatan diri.

Bagi samurai cara menjaga kehormatan adalah dengan menjalankan kode bushido secara konsisten sepanjang waktu dan tidak menggunakan jalan pintas yang melanggar moralitas.

Selain dua hal di atas, sebenarnya ada lima atau enam kode etik samurai yang lainnya.

Sayang, hal tersebut tidak dilakukan atau belum sempat dilakukan oleh bos Garuda, karena Menteri Erick lebih ngebut memecat duluan.

Mestinya setiap bos BUMN bisa menangkap sinyal dari bosnya dan mengimplementasikannya dengan komunikasi yang tepat secara elegan.

Perspektif Restorasi Reputasi

Setiap orang pada prinsipnya memiliki keinginan yang sama, yaitu ingin reputasinya baik, nama baiknya tidak ternoda, dan citranya bersinar.

Kalau orangnya salah? Sama saja.

Orang yang salah atau orang benar, orang yang buruk atau orang yang baik selalu ingin reputasinya baik.

Itukah sebabnya mengapa bisnis jasa layanan pencitraan atau pun jasa manajemen reputasi berkembang cukup baik.

Teori ilmu komunikasi terkait praktek manajemen reputasi ini pun bermunculan.

Seperti yang ditemukan oleh Prof William Benoit, yaitu Image Restoration Theory (atau pemulihan citra/restotasi reputasi).

Dalam perspektif teori Benoit, kata kunci “maaf” dan “mundur” yang disampaikan Menteri Erick merupakan implementasi dari strategi paling pamungkas dari teori pemulihan citra ini, strategi Mortification.

Taktik dari strategi Mortification adalah minta maaf karena ada kesalahan.

Meminta maaf merupakan perbuatan yang terpuji. Minta maaf juga menunjukkan komitmen untuk bersegera memperbaiki diri.

Hingga saat ini sikap elegan eks bos Garuda belum termonitor media. Padahal strategi Mortification ini belum cukup.

Mengapa? Masih ada lagi faktor kerugian yang diderita oleh pihak lain, dalam hal ini negara (bea dan cukai).

Menteri Sri menyebut kerugian negara mencapai Rp 1,5 miliar. Belum lagi pihak yang ikut terseret kasus ini.

Sehingga selain strategi Mortification, mestinya strategi Reducing Offensiveness of Event juga digunakan, terutama taktik Compensation.

Taktik ini adalah memberikan ganti rugi sebagai bentuk tanggung jawab atau menebus kesalahan yang telah terjadi.

Lihat Langkahnya, Ambil Hikmahnya

Nasi sudah menjadi bubur, dan bubur pun barangkali sudah rusak juga. Eks bos Garuda tidak terlihat mengambil langkah komunikasi apapun juga.

Tidak terlihat seperti situasi krisis, meskipun situasinya sudah sangat genting dan gaduh.

Dia masih berdiam diri, tidak ada suara meskipun suara “no comment”. Mungkin, sebentar lagi kita akan menyaksikan akhir ceritanya.

Saya berpendapat, bos BUMN akan memanen hasil komunikasi yang berbeda, jika eks bos Garuda ini melakukan tahapan-tahapan manajemen reputasi secara tepat dan menyampaikannya secara elegan.

Setidaknya pesan yang disampaikan mengandung beberapa muatan strategis terkait restorasi citra, pada saat yang tepat, sebagai berikut:

Pertama, minta maaf atas kesalahan yang sudah dilakukan. Permintaan maaf kepada semua pihak, mulai dari pihak pemerintah sampai karyawan.

Kedua, nyatakan pengunduran diri. Pengunduran diri adalah bentuk dari tanggung jawab atas kesalahan yang sudah dilakukan.

Ketiga, mengganti denda dan kerugian negara. Pernyataan ini adalah bentuk penyesalan yang sangat mendalam sekaligus janji bahwa ke depannya akan memperbaiki diri.

Jika perlu nyatakan kesiapannya menerima konsekuensi hukum.

Keempat, ucapan terima kasih. Ucapan ini sebaiknya diapresiasikan untuk semua jajaran karyawan dari yang terkecil yang sudah bersama-sama membantu pekerjaannya.

Tentu saja sangat tidak tepat karena sudah sangat terlambat jika dilakukan saat ini.

Saat yang tepat adalah sebelum Menteri Erick memecat bos BUMN, tapi lebih tepat lagi sebelum disuruh mundur.

Tidak ada jaminan apakah setelah melakukan upaya restorasi citra di atas akan mendapat perlakuan yang lebih baik atau sama saja.

Dari sisi komunikasi, strategi inilah yang disebut paling elegan oleh Benoit yang juga menulis buku “Accounts, Excuses, and Apologies” (2014).

Barangkali hal ini juga termasuk “harakiri” pasukan Samurai dalam menjaga kehormatan dirinya yang sangat dihormati di Jepang.

Mungkin, itu saja hikmah yang bisa diambil.

Budi Purnomo Karjodihardjo adalah praktisi media dan komunikasi.

(*) Tulisan ini sudah dipublikasikan di media Tribunnews.com

Baca juga tulisan Budi Purnomo Karjodihardjo yang lainnya, terutama seputar manajemen reputasi, manajemen krisis, pencitraan, restorasi reputasi, dan pemulihan citra di official website Budipurnomo.com. Terima kasih.

Budi dan timnya, RESTART – Media Restoration Agency, menyediakan waktu untuk membantu personal/korporasi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Crisis Management, Image Restoration Theory, dan Online Reputation Management.


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

NEWS

SUDAHKAH BERITA ANDA MASUK HALAMAN SATU GOOGLE?

Published

on

Dengan ORM yang tepat maka berita korporasi/Anda bisa menempatkannya pada laman pertama Google, kecuali berIta negatif yang ingin digeser ke belakang.

Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

SIAPA sih yang tidak ingin berita positif Anda atau korporasi Anda bisa dipublikasikan di media online, dan kemudian masuk dalam 10 berita di dalam situs mesin pencari terbesar di dunia, Google? Tidak ada.

Sebenarnya, ada dua kelompok yang sebenarnya tidak mau masuk di halaman satu Google. Pertama, koporasi/tokoh yang reputasi buruk dengan berbagai permasalahannya, misalnya ‘ skandal, korupsi, kejahatan, dan yang berurusan dengan pihak yang berwajib.

Kedua, korporasi/tokoh yang yang sedang diserang krisis berupa kritik yang negatif, tudingan yang tidak benar, ataupun bencana atau musibah yang menimpa yang berpotensi meruntuhkan korporasi/Anda.

Bagi kelompok kedua ini, jika ditangani dengan manajemen reputasi yang tepat maka reputasi korporasi/Anda bisa cepat recovery, citranya pulih kembali menjadi baik dengan strategi restorasi reputasi.

Di dunia komunikasi, berlaku hukum alam yang menyebutkan bahwa semua institusi maupun semua orang ingin reputasinya selalu baik, dan citranya ingin selalu bersinar.

Baik, yang ingin berita positifnya ingin tampil di halaman pertama Google, maupun bagi yang tidak mau berita negatifnya ingin tampil di halaman pertama Google.

Ya, semuanya sama saja. Ingin reputasi dan citranya selalu baik.

Peranan Online Reputation Management

Untuk bisa mengelola berita di halaman satu Google tentu saja diperlukan sebuah tim yang bisa memonitor semua informasi dari internet, terutama yang bersumber dari media online, dan media sosial dan mengelolanya sebagai bahan implementasi dari strategi komunikasi.
Kita menyebutnya sebagai Tim Online Reputation Management (ORP).

Tim ORP in akan merancang dan mengeksukusi praktek-praktek ORP sehingga berita positif muncul di halaman depan Google, dan berita negatif digeser ke halaman belakang Google.

Secara teknis, dapat dijelaskan bahwa Tim ORP akan membuat sejumlah konten positif yang diperlukan di berbagai media online, situs berita nasional, Blog dan Website.

Agar busa tampil di halaman pertama situs pencari, maka akan disusun sesuai dengan target yang diinginkan.

Memerlukan Tim ORM terpadu yang melibatkan team kreatif mulai dari jaringan Blog, Website yang dikelola, situs berita Indonesia, social media manager hingga pakar optimasi, penggiat jasa SEO dan pelaku Online PR (Public Relation).

Dengan ORM yang tepat maka berita korporasi/Anda bisa menempatkkannya pada laman pertama Google, kecuali berta negatif yang ingin digeser ke belakang.

Bukan tidak mungkin, jika momentumnya tepat, dapat berpotensi dibagikan oleh netizen, menjadi viral.

Setelah Masuk Google, Lalu Apa?

Ya terserah Korporasi/Anda mau ngapain. Yang jelas, sekarang reputasi korporasi online Anda sudah menjadi baik, dan citra Anda di halaman satu Google sudah bersih dari polusi berita negatif.

Sudah sangat bagus.
Dengan reputasi yang baik, korporasi akan memperoleh banyak benefit.

Misalnya, pertama, membangun kredibilitas perusahaan.

Kedua, menarik media massa untuk meliput berita dari perusahaan secara gratis sehingga mengurangi biaya komunikasi perusahaan.

Ketiga, jika ada produk yang diluncurkan akan lebih mudah diterima oleh konsumen sehingga biaya peluncuran produk akan lebih rendah.

Keempat, mempermudah pemasaran produk untuk memasuki pasar yang baru, membuka peluang dalam menetapkan harga permium.

Kelima, meningkatkan brand loyalt. Keenam, meningkatkan market share. Ketujuh, menarik bagi investor.

Biasanya setelah reputasi baik, maka langkah korporasi/Anda ke depan akan lebih ringan ke depannya. Lebih percaya diri untuk melakukan manuver bisnis, karena reputasi baik sudah ada di tangan, sehingga sulit mencari jejak negatif di dunia online. Semoga sukses.

Budi Purnomo Karjodihardjo adalah praktisi media dan komunikasi.

Baca juga tulisan Budi Purnomo Karjodihardjo yang lainnya, terutama seputar manajemen reputasi, manajemen krisis, pencitraan, restorasi reputasi, dan pemulihan citra di official website Budipurnomo.com. Terima kasih.

Budi dan timnya, RESTART – Media Restoration Agency, menyediakan waktu untuk membantu personal/korporasi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Crisis Management, Image Restoration Theory, dan Online Reputation Management]


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Advertisement

Trending